Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Mengenang Kembali Amir Hamzah

,
Padamu Jua

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Sayup sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik penarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu, bukan giliranku
Mati hari, bukan kawanku

                                               Dari : Nyanyi Sunyi

Sabtu, 22 September 2012

Keampuhan Bacaan Bismillahirrahmanirrahim

,
Pada suatu hari Nabi Musa a.s merasa sakit perut, mules, sehingga hampir-hampir tidak tertahankan lagi olehnya. Untuk menghilangkan rasa sakit perutnya itu Nabi Musa a.s memohon kepada Allah SWT, supaya diberi petunjuk, apa obatnya. Maka Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang pun memberi petunjuk-Nya, agar Nabi Musa a.s memakan sejenis rumput yang tumbuh di sebuah kebun. Nabi Musa  a.s pun segera pergi ke kebun yang ditunjukkan itu dan diambilnyalah rumput yang tumbuh di situ dan dimakannyalah, seraya mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim" terlebih dahulu. Maka sembuhlah penyakitnya segera dengan izin Allah.

Beberapa lama kemudian, Nabi Musa a.s pun mendapat sakit perut pula, seperti penyakitnya yang dahulu itu juga. Tanpa berpikir panjang, langsung dimakannya saja rumput untuk obat itu. Akan tetapi kali ini penyakitnya bukan langsung sembuh, malah bertambah keras, bertambah menjadi-jadi. Beliau segera pula memohon kepada ALlah SWT, seraya berkata: "Wahai Tuhanku. Tempo hari saya mendapat sakit perut. Lalu Engkau tunjukkan obatnya dan saya makan, sesuai menurut petunjuk-Mu, Sekarang saya dapat lagi sakit perut yang dahulu itu juga, akan tetapi penyakitku ini bukannya menjadi sembuh, malah bertambah kambuh, bertambah menjadi-jadi. Maka, wahai Tuhanku, mohonlah aku supaya ditunjuki lagi, apakah obatnya dan apakah kesalahanku."

Maka berfirmanlah Allah SWT kepada Nabi Musa a.s : "Pada kali pertamanya engkau berobat, dengan petunjuk-Ku dan sebelum engkau memakan obat itu, engaku ucapkan Nama-Ku, maka Aku izinkanlah penyakitmu itu keluar darimu dan sembuhlah engkau. Akan tetapi kali ini engkau lupa dan tidak engkau makan obat itu atas nama-Ku. Maka jadilah penyakit itu, tidak Aku izinkan meninggalkan engkau dan membandellah ia terhadap kehendakmu, sehingga ia tetap berada dalam perutmu. Itu sebabnya, karena usahamu yang kedua ini, justru atas kehendakmu sendiri, tidak atas nama-Ku (Allah) dan tidak karena-Ku. Apakah engkau tahu, wahai Musa, bahwa apa yang ada di dunia ini adalah racun, sedangkan penyelamatnya, artinya menghindarkan diri dari racun itu, berbuat atas nama dan karena Aku?" Mendengar firman Allah SWT itu, maka Nabi Musa a.s pun segera bertaubat.

Itulah sekelumit kisah Nabi Musa a.s yang dapat kita jadikan suri tauladan, bahwa apapun yang kita kerjakan di dunia ini, hendaklah kita mulai dengan niat karena Allah semata-mata dan memulainya dengan menyebut "Bismillahirrahmanirrahim" ketika akan melaksanakannya serta ditutup dengan ucapan "Alhamdulillahirobbil'alamin, bila kita telah selesai dari sesuatu pekerjaan, agar keberkatan dilimpahkan Allah SWT kepada kita.

Panji Masyarakat
No.317
4 Jumadil Awal 1401-11 Maret 1981
Tahun XXII
Hal.66

Jumat, 21 September 2012

Tuan Monem Dalam Kisah K'tut Tantri

,
Dalam buku "Revolusi Di Nusa Damai" karangan K'tut Tantri, yaitu seorang wanita Amerika keturunan Inggris yang turut berjuang bersama gerilyawan-gerilyawan Indonesia di Surabaya dalam masa revouksi dikisahkan tentang pengakuan negara-negara Arab kepada Pemerintah Indonesia yang baru berdiri, di mana seorang yang bernama Abdul Monem dengan cara yang penuh resiko memasuki Indonesia yang sedang diblokade Belanda, untuk menyampaikan surat kuasa Raja Farouk dari Mesir dan pengakuan Liga Arab.

K'tut Tantri waktu itu sedang berada di SIngapura, dia bermaksud akan meninggalkan Indonesia setelah bertahun-tahun ikut berjuang. Ketika dia sedang mendengarkan radio BBC London di sebuah rumah orang Indonesia yang disebutkannya sebagai "Kolonel X", dia didatangi oleh seorang tamu orang asing, kulitnya hitam dan hidungnya bungkuk. Orang itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai utusan Raja Farouk, bekas Konsul Jendral Mesir di India, dia menanyakan bagaimana caranya untuk sampai ke Yogya menyampaikan surat kepercayaan Raja Mesir itu.

K'tut Tantri menyatakan kesulitan memenuhi maksud orang Mesir itu, soalnya berbahaya menembus blokade Angkatan Laut Belanda, dan orang Indonesia tak ada yang punya kapal. Setelah lama berunding mencari jalan yang mungkin dapat ditempuh, mereka kemudian berpisah dengan janji akan bertemu lagi.

"Tidaklah mudah untuk memberangkatkan Tuan Monem ke Yogya. Walaupun ia berhasil mendarat di pantai pulau Jawa, timbul persoalan lagi, bagaimana caranya untuk sampai di ibukota Republik melalui daerah yang asing baginya, di mana tidak kendaraan untuk disewa, dan untuk bepergian perlu ada surat jalan dari Tentara Republik Indonesia. Para pejuang gerilya menjaga sepanjang pantai, dan mereka mabuk darah. Seorang asing tak dikenal kemungkinan bisa hilang tak tentu dengan tuduhan sebagai mata-mata musuh". Demikian cerita K'tut Tantri yang kenal betul keadaan Indonesia dalam masa revolusi itu.

Akan tetapi K'tut Tantri menyadari dengan sepenuh hatinya betapa pentingnya Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya itu menerima pengakuan negara Arab dan Mesir, dan dia berusaha mencari-cari kapal orang Cina dan pemilik-pemilik kapal lain, tapi usahanya sia-sia karena tak seorang pemilik kapal pun yang mau ambil resiko berbahaya itu.

Sampai juga K'tut Tantri menanyakan kemungkinan untuk menyelundupkan Abdul Monem bersama bekas-bekas Romusha yang akan dipulangkan dari Singapura ke Indonesia, tapi usahanya ini juga gagal. Akhirnya berkat usaha "Kolonel X" didapatlah sebuah pesawat terbang yang akan membawa Romusha itu, direncanakan Tuan Monem itu menyamar sebagai kuli. Usaha itu gagal.

K'tut Tantri berusaha lagi, kali ini berhubungan dengan seorang pemimpin perusahaan Inggris di Singapura.

Orang Inggris itu menyatakan kesanggupannya membantu K'tut Tantri, tapi dengan bayaran yang cukup mengejutkan K'tut Tantri dan Tuan Monem. "Sepuluh ribu dollar untuk pesawat, di luar biaya untuk anak kapal", katanya.

Baik K'tut Tantri maupun orang Mesir itu tak punya uang sebanyak itu, tapi Monem yakin pemerintahnya bisa membayar asal dihubungi. Akan tetapi berhunbungan ke Kairo baik melalui kawat atau surat bukan hal yang aman, mengingat tugas yang diembannya. Akhirnya K'tut Tantri yang cerdik itu meminta pada perusahaan Inggris itu agar pembayaran dapat ditangguhkan beberapa hari setelah pesawat sampai ke Yogya. Jaminannya ialah Kementrian Pertahanan Indonesia.

Surat-surat perjanjian pun ditandatangani, di situ tertera hutang $ 10,000 yang akan dibayar oleh Kementrian Pertahanan Indonesia nanti.

Pesawat yang akan mereka pakai adalah sebuah pesawat yang datang dari Manila mampir ke Singapura dan terus ke Jawa. Setelah menyelusup masuk ke lapangan udara Singapura, tanpa mematikan mesinnya, kedua orang itu pun melompat naik ke dalam pesawat. Monem mneyamar sebagai kuli dan K'tut sebagai tuannya, tak seorang pun petugas lapangan mengetahuinya. Pesawat pun meluncur ke udara.

Dalam perjalanan, mereka dikejar oleh beberapa pesawat tempur. Tapi sang pilot yang punya pengalaman perang dunia berhasil memperdayakan pemburu-pemburu mereka dengan cara menukikkan pesawat hampir-hampir menyentuh permukaan laut, mereka berhasil menyelamatkan diri.

Mereka sampai di Yogya dan besoknya Tuan Monem diterima oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan pejabat-pejabat tinggi negara dalam suatu upacara penyerahan surat-surat kepercayaan dari Raja Farouk atas nama semua negara-negara anggota Liga Arab. K'tut Tantri mengisahkan kejadian itu sebagai berikut: "Di ruang resepsi istana diadakan upacara khidmat yang mengesankan. Presiden Soekarno dan Abdul Monem berdiri tegak berhadap-hadapan. Presiden kelihatan tenang, akan tetapi Monem sebaliknya. Suaranya menggetar dan tangannya gemetar ketika membacakan surat pengakuan, bahwa Mesir dan Liga Arab dengan resmi mengakui Negara Republik Indonesia dan menyambutnya dalam keluarga bangsa-bangsa".

Begitulah kisahnya kedatangan utusan Liga Arab dan utusan Raja Mesir untuk menyampaikan pengakuannya pada Republik Indonesia, pengakuan internasional yang diterima Indonesia. Satu hal yang agaknya patut kita kenangkan, dalam membina hubungan dengan Timur Tengah, tak seorang pun kita yang tahu di mana Abdul Monem yang dikisahkan K'tut Tantri itu sekarang, dan kita pun tak pernah melihat gambar Abdul Monem duduk dengan deretan tamu-tamu terhormat dalam upacara kemerdekaan di halaman Istana Merdeka, atau mendengar sebuah bintang disematkan di dadanya seperti orang-orang lainnya yang dianggap pernah berjasa kepada Republik ini.

Panji Masyarakat 
No.172
1 April 1975
Hal. 9-10

Kamis, 20 September 2012

Mengenai Rohana Kudus

,

Tamar Djaya, penulis buku Rohana Kudus, Riwayat Hidup dan Perjuangannya pernah dituduh seorang guru di Sumatra sebagai penulis "Vandalis". Menurut sang guru, Kartini hanya seorang. Dan kalau ada orang mengatakan ada lagi seorang wanita dari Sumatera, adalah semata-mata ingin menonjolkan orang kampungnya.

Ketika penulis buku tersebut menyuruh sang guru melihat bukti perjuangan Rohana di Koto Gadang dan hasil karyanya di Museum Jakarta, sang guru yang menuduh Tamar Djaya sebagai Vandalis terpaksa diam seribu bahasa. "Sebenarnya tidaklah mengherankan kalau dalam tingkat permulaan itu, orang-orang ragu menerima kebenaran ini, karena memang belum pernah terdengar, dan ahli sejarah kita pun tak pernah pula menyebut-nyebutnya", tulis Tamar Djaya.

Sampai kini, dua gelar penghargaan yang diterima Rohana Kudus meliputi penghargaan sebagai wartawati pertama dari Gubernur Sumatera Barat 15 Agustus 1974 dan gelar penghargaan Perintis Pers Indonesia dari Menteri Penerangan RI 9 Februari 1987.

Bila kini ada anak usia 7 tahun membacakan berita surat kabar dengan suara lantang di sebuah warung, agaknya orang minum atau makan akan menilai anak itu kurang akal, kalau tidak akan mengusir, disebabkan mengganggu ketenangan. Tapi pada tahun 1892, semasa belum banyak orang pandai tulis-baca, kehadiran Rohana Kecil didambakan masyarakat yang sedang nongkrong di warung.

Suatu kebiasaan Rohana sewaktu kecil, usia 8 tahun, membacakan surat kabar langganan ayahnya Moh.Rasyad Marajo Sutan di depan orang ramai di warung. Berita yang dibacakan itu sangat besar artinya. Sebab belum banyak orang yang tahu tulis-baca. Itu, hanya salah satu keistimewaan Rohana Kudus dari kecil, sudah terlihat cerdas dan pintar.

Dilahirkan 20 Desember 1884 di Koto Gadang, sebuah desa kecil di Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat. Tahun kelahiran Rohana bersamaan dengan Dewi Sartika. Meski Kartini lebih tua, namun dalam memulai kegiatan, Rohana Kudus lebih dahulu 8 tahun. Ayahnya seorang jurutulis. Dan Rohana merupakan saudara sepupu berlainan ibu dengan St. Syahrir, Perdana Menteri Pertama RI. Rohana ikut bersama ayahnya selama 11 tahun. Dalam usia 6 tahun ia telah mulai belajar menulis dan membaca dari orang tua angkatnya, seorang jaksa. Adiesa isteri teman ayahnya Jaksa di Alahan Panjang Solok, mengajari Rohana menulis dan membaca serta berhitung.

Mulai Mengajar 

Orang tua Rohana kemudian pindah tugas ke Talu, Pasaman. Di sini Rohana mulai membangun sekolah, dan mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pelajaran berhitung, menulis dan membaca. Pekerjaan itu dilakukan 8 tahun sebelum Kartini berkiriman surat dengan temannya. Nenek Rohana bernama Sini Tarimin, orang termasyhur dalam bidang jahit menjahit, bahkan pernah mendapat medali kehormatan dari pemerintah. Pada nenek itu, Rohana belajar jahit-menjahit, merenda, menterawang dan menyulam.

Dan jangan lupa pelajaran agama yang dituntut sejak usia 6 tahun, juga diberikan kepada muridnya di Talu, Pasaman, tempat ayahnya bertugas.

Tahun 1897, ibunya meninggal dunia. Dan ia balik ke kampung Koto Gadang berpisah dengan ayahnya. Pekerjaan yang telah dimulainya di Talu Pasaman, ia lanjutkan di Koto Gadang. Semua anak-anak, terutama yang wanita berkumpul di rumahnya belajar berhitung, membaca, menulis dan menjahit, serta menyulam. Pada waktu itu berarti usianya baru mencapai 13 tahun, sebuah usia yang terlalu muda, sampai kini pun jiwa kepeloporan dan pergerakan kaum wanita bangsanya demikian menggebu. Setiap hari Kamis, kepada anak asuhannya diajarkan pelajaran agama. Dan setiap habis memberikan pelajaran, Rohana selalu membacakan surat kabar pada muridnya.

Nama Rohana sebagai pendidik kian hari kian harum. Pada tahun 1908, baru ia menikah dalam usia 24 dengan seorang pemuda bernama Abdul Kudus, anak seorang Laras, yang juga mempunyai jiwa pergerakan. Suaminya kebetulan keponakan dari ayahnya. Perkawinan seperti ini suatu kebiasaan di Minangkabau. Rohana dinilai terlambat melangsungkan pernikahan, karena pada masa itu, gadis desa menikah dalam usia belasan. Rohana memang sibuk dengan kegiatannya.

Menanggung Fitnah

Pekerjaan sebagai guru di Koto Gadang terpaksa putus selama 3 tahun, karena ia pindah tinggal di Maninjau bersama suaminya. Baru pada tahun 1911, Rohana kembali melanjutkan pekerjaannya di kampung. Ketika inilah hasratnya menggebu untuk membangun sebuah gedung sekolah yang permanen. Ini yang mengawali Yayasan Amai Setia. Rupanya tidak semua orang senang dengan kegiatan yang dilakukan Rohana Kudus. Bagi sebagian kecil orang, Rohana mengumpulkan anak gadis ketika itu dinilai sebagai mengundang aib. Berbagai isu dihembuskan orang yang tak senang padanya. Ia difitnah telah merusak budi pekerti. Meski tak pernah meminta bayaran di sekolah tersebut, tetapi hembusan fitnah orang itu tak dapat ditahankannya. Bersama suaminya, tiga tahun ia meninggalkan kampung. Tapi setiap malam ingatannya selalu pada murid yang ditinggalkan. Ia membayangkan muridnya seperti anak ayam kehilangan induk.

Banyak surat datang ke Bukittinggi meminta Rohana kembali ke kampung untuk melanjutkan kegiatan sekolahnya. Dalam hatinya masih tergores pedihnya fitnah yang dilemparkan tempo hari. Tetapi Rohana memang dasar pejuang, tak tahan ia mendengar ratapan orang kampungnya setelah ditinggalkan. Ia memutuskan kembali ke kampung dan aktif kembali mengajar di sekolahnya. Namun kepulangannya kini dibekali semangat untuk lebih memperbaiki sistem belajar dan mekanisme yang lebih baik.

Rohana School

Bila di pulau Jawa didirikan sekolah Kartini setelah Kartini meninggal, tetapi di Bukittinggi ada Rohana School yang didirikan Rohana Kudus, ketika pindah dari Koto Gadang. Itu dilakukan pada tahun1916. Ia memang tak lepas dari fitnahan. Ketika memimpin Amai Setia, ia difitnah telah menggelapkan uang perkumpulan. Setelah diadili di Bukittinggi, ternyata ia tak terbukti bersalah. Seluruh keuangan perkumpulan dapat dipertanggungjawabkan, dan administrasinya bersih dan rapi. Fitnahan tersebut hanya karena keirian orang-orang yang tak senang padanya.

Ketika di Bukittinggi, ia membuat surat kepada Dt. St. Maraja yang menjadi Pemimpin Redaksi surat kabar Utusan Melayu di Padang. Ia bercerita tentang keinginan dan keluhan jiwanya untuk memajukan wanita melalui tulisan. Pemimpin Redaksi Utusan Melayu menyambut dengan semangat. Bahkan Dt. St. Maraja datang menemui Rohana ke Bukittinggi. Mereka sepakat menerbitkan surat kabar wanita. Rohana ditunjuk sebagai Pemimpin Redaksi, tetapi ia tetap berada di Bukittinggi, karena muridnya tak mungkin ditinggalkan. Sebagai redaksi pelaksana, ditunjuk Ratna Djuita, adik Dt. St. Maraja Itulah surat kabar perempuan pertama di Indonesia,"Sunting Melayu" yang diterbitkan tahun 1912. Terbit 3 kali seminggu. Coba baca diantara karangannya :

"Apabila diperhatikan bagaimana gerakan bangsa waktu ini, dan diperbandingkan dengan gerakan Hindia dan difikirkan bagaimana gerakan Sumatera waktu ini, maka tahulah kita bahwa masih jauh jalan yang kita tempuh ke padang yang bernama kemajuan."

"Biarpun banyaknya perserikatan terutama buat laki-laki akan tetapi marilah kita bangsa perempuan berani minta terima kasih kepada ahli-ahli supaya kita dihelanya dari lembah kegelapan ke jalan yang terang. Banyak tempat telah bertambah juga murid-murid perempuan dan belajar dengan rajinnya. Kita harapkan mudah-mudahan sekalian bangsaku Melayu yang ingin akan kemajuan dan keselamatan negeri dan bangsa serta tanah airnya akan memperhatikan hal ini." (Sunting Melayu 23 Mei 1923 tahun ke-2).

Pada 27 Juni 1922 no. 4 tahun I di Sunting Melayu, Rohana menulis, di antaranya :

"Ayolah mari ke taman sunting

  hamburkan benih yang penting-penting

  anyam menganyam, gunting menggunting 

  halus dan kasar dahan dan ranting


  Perempuan harus menggerakkan diri

  patutlah pula mengeluarkan peri

  penahan nan kesat nak hilang diri

  penghentian gunjing sehari-hari.

Dari dua kutipan karangan Rohana di atas, terlihat betapa besar cita-citanya untuk memajukan wanita di Indonesia. Masih banyak lagi karanganmya yang enerjik dan bernilai patriotisme. "Sunting Melayu" mampu bertahan sampai tahun 1921. Suatu rentang waktu yang tidak pendek untuk usia sebuah surat kabar wanita.

Tahun 1920. Rohana pindah ke Medan. Tahun 1924 ia pulang dan kembali menjadi wartawati surat kabar Radio yang terbit di Padang. Ia mengeluh, menangis, dan bersedih hati menyaksikan nasib kaumnya yang masih diperbudak secara tidak resmi. Banyak wanita menjadi nyai dan istri piaraan penggede Belanda. Sehabis manis, sepah dibuang. Dan lebih-lebih jadi pekerja di perkebunan yang selalu jadi barang rongsokan. Wanita menjadi pemuas hawa nafsu kaum lelaki. Demikian juga di Jawa, mereka bekerja di pabrik dan selalu menjadi permainan lelaki. Mereka tidak bersekolah dan tidak punya ilmu pengetahuan, sehingga apa yang terjadi pada dirinya dianggap sebagai takdir Tuhan YME.

"Kapankah bangsaku akan maju?

 Pabilakah kaumku akan bangun?" tulis Rohana.

Rohana Kudus meninggal pada 17 Agustus 1972 dalam usia 88 tahun di rumah anaknya, Jasma Juni, Jln. Sukabumi I Jakarta. Lalu Tamar Djaya pernah menulis : "Orang hanya menyebut Kartini dan sama sekali tidak menggubris Rohana. Rohana tak ada dalam catatan sejarah kita. Alangkah zalimnya dunia ini."



Mafri Amir
"Tentang Rohana Kudus Itu"
Panji Masyarakat
No. 575 
11-20 Mei 1988
24 Ramadhan-4 Syawal 1408 H
Halaman 41-43


Selasa, 18 September 2012

Gadis 8 Tahun Berbicara Tentang Jihad

,
Seorang gadis kecil muslimah berumur 8 tahun yang bernama Ruqaya, dalam sebuah rekaman video pada acara Muslim Conference di Sidney, Australia mengejutkan banyak orang. Acara yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir di Bankstown, sebelah barat kota Sydney, Australia.
Dalam konferensi mengenai kebangkitan Muslim itu, Ruqaya mengatakan tentang kecintaan dirinya pada Jihad dan Perlawanan rakyat Suriah. Hal ini sepertinya membuat pihak berwenang di Australia kelimpungan. Mereka mengadakan penyelidikan tentang latar belakang Ruqaya, gadis kecil Muslim berusia 8 tahun yang pemberani ini.
The little girl made controversial comments about her love for Jihad and the Syrian uprising

The little girl made the controversial comments as she addressed a crowd attending an Islamic conference

Menurut 9News, di dalam video itu Ruqaya si muslimah cilik ini juga mengatakan: "Perlawanan di Suriah menunjukkan bahwa Ummat ini masih ada dan baik-baik saja, bahwa perasaannya adalah untuk Islam, cintanya untuk Jihad, dia tidak takut dengan apa yang menjadi pegangan hidupnya itu.

"Anak-anak muda yang seumuran seperti saya di sana terlihat di jalan-jalan bergabung dengan perlawanan (terhadap rezim Assad), mempertaruhkan nyawa mereka untuk membawa makanan, air dan obat-obatan untuk anggota-anggota keluarga mereka yang terluka.......beberapa dari mereka bahkan tidak pernah kembali lagi."


Sungguh berbeda dengan gadis-gadis muslim di kota kita ya? Di sini pada sibuk bersolek, pakai celana pendek, tidak menutup aurat dengan benar dll.

Sabtu, 15 September 2012

Imam Al-Bukhari Dan Imam Muslim, Dua Tokoh Penutur Hadits Yang Piawai

,
Di samping beberapa nama tenar penutur hadits yang kesohor, seperti Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah dan lain-lain, Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim sering disebut sebagai penutur-penutur hadits yang piawai. Di bawah sederet nukilan hadits Rasulullah SAW selalu bisa dijumpai nama kedua tokoh penutur hadits itu.

Menimba Ilmu Dari Seribu Guru

Nama lengkap Imam Al-Bukhari adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badizbah Al-Ja'fi Al-Bukhari. Ia dilahirkan di kota Bukhara pada Jum'at 13 Syawal 194 H. Pada usia yang masih relatif muda Al-Bukhari telah mampu menghafal sejumlah karya beberapa imam besar, berkat semangatnya yang besar dalam menimba ilmu. Sejak masa kanak-kanak ia sudah mampu menghafal dengan baik dan lancar beberapa tulisan imam-imam yang terkemuka di zaman itu. Al-Bukhari paling senang mendengarkan hadits-hadits yang dibacakan oleh para ulama di negerinya, di majlis-majlis taklim yang selalu dihadirinya dengan setia.

Pada 210 H, bersama ibunda dan saudaranya, Imam Al-Bukhari merantau ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji. Seusai menunaikan ibadah haji itu, ia tinggal beberapa lama di Madinah. Selama berada di Kota Nabi itulah ia menyusun Kitab At-Tarikh al-Kabir. Ini ia lakukan di samping makam Rasulullah SAW.

Dengan maksud dan dalam rangka menambah ilmu pengetahuan di bidang ilmu hadits, Imam Al-Bukhari kemudian melanjutkan perjalanannya ke berbagai kota untuk menemui guru-guru hadits dan para imam. Antara lain, ia pergi ke Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Syam, Homs, Asqalan dan Mesir. Selama perjalanannya ini ia menghimpun dan mencatat lebih dari 1.000 orang guru yang ditemuinya.

Perjalanan Al-Bukhari yang berat dan lama itu tak akan terlaksana andaikan ia tidak memiliki kepribadian yang tabah, tidak sabar dan gampang menyerah atau putus asa, juga tidak memiliki intelegensi yang tinggi, daya nalar kuat, cerdas dan cepat tanggap. Bukan luar biasa bila berkat kecakapan, kerajinan dan ketekunannya dalam memperlajari hadits-hadits, akhirnya ia dikenal dan sekaligus mencapai kedudukan sebagai tokoh terkemuka dalam ilmu hadits. Di samping itu ia pun dikenal sebagai orang yang tidak mudah terbuai oleh pesona duniawi dan rajin ibadah.

Sebagai buah perjalanannya yang panjang dan melelahkan itu, Al-Bukhari berhasil menghafal di luar kepala 100.000 hadits shahih, dan 200.000 hadits tidak shahih. Tidak aneh jika ia kemudian dipandang sebagai tokoh yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai perbedaan hadits yang shahih dari yang dhaif, memahami benar-benar keadaan sanad dan matan serta semua seluk beluk yang berkaitan dengan hadits maupun ilmu-ilmu hadits.

Pada umumnya para ulama mengetahui dan mengakui kedudukan Al-Bukhari yang tinggi itu dan kemampuannya yang demikian besar. Hal ini dibuktikan ketika ia berkunjung ke Baghdad. Sebelum tiba di sana, warga kota itu telah ramai membicarakan dan memuji-muji kehebatannya. Nama Al-Bukhari memang telah tersohor ke seluruh belahan dunia Islam waktu itu.

Diuji Ulama Baghdad

Ketika Al-Bukhari tiba di Baghdad, para ahli hadits kota itu ingin menguji kepiawaiannya. Mereka pun menyiapkan 100 buah hadits, lalu mereka balikkan matan dan sanad-nya. Mereka kacaukan matan hadits -hadits tersebut dan menempatkan matan suatu hadits bukan pada sanad-nya. Mereka juga menempatkan sanad hadits yang terakhir pada hadits yang lain. Mereka ini terdiri dari 10 orang ahli hadits dan setiap orang menyiapkan 10 buah hadits yang dikacaukan untuk disampaikan kepada Al-Bukhari dalam majis yang bakal dihadiri oleh 10.000 orang.

Sesudah semua orang berkumpul, salah seorang di antara ulama Baghdad itu tampil berdiri dan menanyakan salah satu hadits dari kesepuluh hadits yang disiapkannya. Ketika Al-Bukhari mendapat pertanyaan tersebut, ia langsung menjawabnya dengan mengatakan, "Saya tidak tahu." Demikian seterusnya hingga hadits yang kesepuluh ditanyakan kepadanya. Semua pertanyaan yang diajukan kepadanya mendapat jawaban yang sama, "Saya tidak tahu." Kemudian ulama-ulama yang lain tampil bertanya. Tetapi jawaban yang diberikannya tetap sama seperti semula. Sehingga para ulama yang bertanya itu saling pandang satu sama lain dan merasa amat tercengang akan kejelian pandangan Al-Bukhari.

Setelah semua pertanyaan diajukan, Al-Bukhari kemudian neguraikan kepada para penanya tentang duduk perkara hadits-hadits mereka itu. Seorang demi seorang diberinya penjelasan dan akhirnya Al-Bukhari mengembalikan setiap matan pada sanad-nya. Menyaksikan kemampuan Al-Bukhari yang luar biasa tersebut, para penanya akhirnya mengakui Al-Bukhari memang betul-betul piawai.

Suatu saat Al-Bukhari dianjurkan oleh salah seorang gurunya agar menghimpun hadits atau sunnah Rasulullah SAW yang shahih dalam sebuah kitab. Anjuran sang guru itu mengena di hati Al-Bukhari. Ia kemudian berupaya mengumpulkan hadits-hadits shahih tersebut dalam sebuah kitab yang disebut Al-Jami' as-Shahih atau Shahih Al-Bukhari. Ternyata upaya ini menyita waktu cukup lama : 16 tahun.

Sewaktu menyusun Al-Jami' as-Shahih ini, Al-Bukhari mempunyai kebiasaan mandi membersihkan diri, kemudian melakukan sholat dua raka'at dan beristikharah kepada Allah SWT sebelum mulai menulis. Ia tidak menulis kecuali hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah SAW.

Dalam menyusun karya besar tersebut, Al-Bukhari memilah-milah bab demi bab yang disesuaikan dengan bab-bab dalam ilmu fikih. hal ini ia lakukan dengan seksama dan teliti. Hadits-hadits yang dihimpun oleh Al-Bukhari dalam karya tersebut-sebagaimana dikatakn oleh Ibnu Hajar dalam kata pengantar Fath al-Bari-ada sebanyak 7.397 buah hadits. Ini selain hadits-hadits yang mu'allaq, yang mutabi' , yang mauquf dan hadits-hadits yang matan-matannya maushul sebanyak 2.602 hadits.

Setelah Al-Bukhari rampung menyusun dan mengulas karyanya itu, ia lalu membacakannya kepada Ahmad bin Hambal, Ibnu Main, Ibnu Madini, dan imam-imam hadits yang lain. Mereka semua sepakat, hasil karya Al-Bukhari itu bisa dipertanggungjawabkan dan hadits-hadits yang dihimpun dalam karya besar tersebut merupakan hadits-hadits yang shahih.

Al-Bukhari wafat di desa Khartank, seklitar 16 km dari Samarkand pada 30 Ramadhan 256 H.

Murid Yang Tak Kurang Piawai

Di antara para murid Al-Bukhari, ada seorang murid yang kemudian juga menjadi imam di bidang hadits yang tak kurang piawai dibanding sang guru. Si murid tersebut dikenal dengan sebutan Imam Muslim. Nama lengkap Imam Muslim ialah Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi an-Naisaburi.

Imam Muslim lahir di Naisabur pada 204 H. Sejak kecil ia sudah gemar menimba ilmu pengetahuan. Kalau perlu malah sampai merantau ke negeri orang. Di antara tempat-tempat yang pernah dikunjunginya ialah Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir.

Imam Muslim menerima hadits-hadits dari beberapa orang guru, selain dari guru utamanya, Al-Bukhari. Seperti halnya sang guru, ia gemar sekali mempelajari ilmu hadits dan amat menyenangi, bahkan mencintai ilmu tersebut. Ia juga mengikuti jejak Al-Bukhari yang sangat ia hormati dalam upaya menyusun karyanya.

Seperti halnya para imam yang lain, Imam Muslim juga memiliki kemapuan yang luar biasa. Daya hafalnya sungguh hebat. Di samping itu ia juga punya kemampuan mengarang. Salah satu karyanya yang terkenal ialah Shahih Muslim. Karya Imam Muslim yang satu ini tak kalah tersohor dengan karya gurunya, Shahih Al-Bukhari. Karyanya ini mempunyai peran dan kedudukan yang amat penting dan utama dalam dunia ilmu hadits.

Mengenai kedua karya besar tersebut, ada yang berpendapat Shahih Al-Bukhari lebih unggul ketimbang Shahih Muslim. Ini karena Al-Bukhari mensyaratkan penutur hadits harus bertemu langsung dengan gurunya, sementara Muslim tidak memberikan syarat yang demikian itu. Lagi pula Al-Bukhari lebih teliti dan seksama, juga karyanya ini diselaraskan dengan ilmu fikih. Di samping itu, dalam Shahih Al-Bukhari tidak banyak hadits-hadits yang mendapat sorotan dari segi syadz dan illat-nya bila dibandingkan dengan hadits-hadits yang ada dalam Shahih Muslim.

Oleh karena itu tidak aneh bila sebagian besar ulama mengukuhkan Shahih Al-Bukhari lebih unggul dibanding Shahih Muslim dari segi ilmu hadits. Meski demikian di lain pihak Shahih Muslim juga mempunyai keistimewaan dibanding Shahih Al-Bukhari. Muslim tidak memenggal-menggal hadits dan sanadnya, tidak pulang mengulang-ulangnya. Ia hanya menghimpun semua hadits dalam satu bab, sehingga memudahkan para penelaah untuk mempelajarinya.

Imam Muslim wafat pada 261 H di tempat kelahirannya pada usia 57 tahun.


Oleh Muhammad Ali
Majalah Panggilan Adzan
September 1991
Hal.73-77

Sabtu, 30 Oktober 2010

Kata Terakhir Ibu Fatmawati Soekarno : “AKU BERDO’A UNTUK CITA-CITA INDONESIA MERDEKA”

,

Artikel dari majalah Panji Masyarakat No.297, 15 Juni 1980, Tahun XXI , 2 Sya'ban 1400

Halaman 41


Beruntun berturut-turut para janda tiga pemimpin revolusi kita mengunjungi Tanah Suci melaksanakan ibadah Haji Umrah. Mulanya berangkat Ny.Rahmi Hatta, lalu disusul oleh Ny.Fatmawati Soekarno, kemudian tiba di Jeddah tanggal 10 Mei 1980 rombongan Ny.Siti Wahyunah Poppy Sjahrir. Pada tanggal 11 Mei 1980 bertepatan dengan hari ulang tahun ke-60 Ny.Sjahrir, dutabesar Hadi Thayeb mengadakan jamuan makan di kediamannya dan di situ hadir Ny.Fatmawati Soekarno. Tiga hari kemudian, pada perjalanan kembali ke tanah air, Ny.Fatmawati meninggal dunia di Kuala Lumpur. Wartawan Indonesia terakhir yang mewancarainya di Jeddah ialah H.Rosihan Anwar yang kebetulan sedang melaksanakan ibadah Haji Umrah.


Ny.Fatmawati berkata waktu itu : "Datang ke Mekah sudah menjadi pendaman cita-citaku. Saban hari aku melakukan zikir dan mengucapkan syahadat serta memohon supaya diberi kekuatan mendekat kepada Allah. Juga memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdo'a untuk cita-cita seperti semula yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia Merdeka:.


Sejurus ia berhenti. Ia melanjutkan : "Aku mendo'a di Masjidil Haram......". Ia berhenti lagi. "Bagaimana perasaan Ibu Fat ketika itu?"tanya H.Rosihan Anwar.


"Seperti di alam sorga. Ternganga aku"', sahut Ny.Fatmawati. Ia tambahkan : "Bahagia sekali aku dapat mencium Hajar Aswad pada malam Jum'at".


Dalam pada itu Ny.Rahmi Hatta sekembalinya dari Mekkah ketika diwawancarai oleh H.Rosihan Anwar mengatakan : "Ber-umrah lain daripada diwaktu Haji. Memang dimaksud melaksanakan ibadah Haji Umrah itu tadinya ialah bersama-sama dengan Bung Hatta. Tapi sejak tahun yang lalu Bung Hatta sakit-sakitan. Setelah Bung Hatta tidak ada, kami pergi juga. Di Ka'bah saya menangis, karena saya sendiri. Senyum Bung Hatta selalu terbayang-bayang, dan kami selalu mendo'akan Bung Hatta. Berumrah itu memang nikmat. Ka'bah itu memang mempunyai daya tarik sendiri buat orang Islam, membuat kita terharu bila melihatnya. Dengan tiada sengaja keluar air mata".


Sedangkan Ny.Siti Wahyunah Poppy Sjahrir mengatakan dia bersyukur dan berbahagia karena telah dapat melaksanakan ibadah Haji Umrah. Pada akhir tahun yang lalu dia memperoleh suatu petunjuk ghaib : "Kau harus pergi ke Mekkah". Alhamdulillah hal itu sudah dilaksanakannya. (HRA)


HRA : H.Rosihan Anwar

Kamis, 22 Juli 2010

FRONT SINAI-OPERASI BADR 1973

,
Artikel dari Majalah Panji Masyarakat No.170, 1 Maret 1975

Segera setelah selesai perang 6 hari thun 1967,dan seluruh Sinai diduduki oleh Israel,termasuk sebelah Timur Terusan Suez, maka Kepala Staf Angkatan Darat Israel yang bernama Letnan Jendral Haim Bar Lev mengemukakan gagasan untuk membuat benteng di sepanjang Terusan Suez sebelah Timur yang dikuasai Israel. Gagasan tersebut diterima oleh pemerintah Israel dan pembuatan benteng dilaksanakan. Benteng tersebut seluruhnya terbuat dari pasir dengan tinggi lebih kurang 20 meter, lebar 26 meter dan panjang lebih kurang 135 km sepanjang Terusan Suez dari Laut Merah sampai Laut Mediteran. Antara beberapa kilometer dibuatlah kamar-kamar tempat tentara Israel. Tempat itu dilengkapi dengan senjata-senjata berat termasuk meriam-meriam kaliber besar. Dari tempat-tempat seperti itulah di sepanjang Terusan Suez,tentara Israel mengawasi gerak gerik tentara Mesir di sebelah Barat Terusan Suez dengan perlengkapan-perlengkapan modern. Benteng pasir sepanjang terusan Suez itu dibuat demikian rupa sehingga betul-betul tangguh dan kuat. Karena gagasan membuat benteng pasir itu datangnya dari Letnan Jendral Bar Lev, maka benteng tersebut diberi nama sesuai dengan namanya, yaitu benteng Bar Lev. Biaya pembuatannya lebih kurang $300 juta US dollar.

Disamping itu, secara rahasia Israel telah memasang pula pipa-pipa minyak di dalam Terusan Suez dan sepanjang Terusan Suez. Dalam keadaan pipa-pipa tersebut secara otomatis segera terbuka dan minyaknya yang menggenangi Terusan Suez segera terbakar, sehingga Terusan Suez akan menjadi lautan api. Dalam keadaan yang demikian menurut perhitungan Israel, tentara Mesir tidak mungkin melewati Terusan Suez, apalagi merebut Bar Lev. Oleh karena kuatnya benteng tersebut, maka dengan angkuhnya, Israel selalu mengatakan bahwa Mesir tidak mungkin dapat merebut Bar Lev. Begitu tingginya benteng tersebut, bila seseorang berada di atasnya akan terlihatlah dengan jelas segala sesuatu yang berada di sebelah Barat Terusan Suez. Sebaliknya bila seseorang berada di sebelah Barat Terusan Suez, maka ia tidak dapat melihat apa-apa yang sedang berlaku di sebelah Timur terusan Suez.

Bagaimana Mesir Merebut Bar Lev

Mesir, sebagaimana juga negara-negara Arab lainnya bertekad membebaskan seluruh wilayah Arab yang diduduki Israel serta membebaskan Palestina. Untuk dapat merebut kembali Sinai, maka Mesir harus lebih dulu merebut Bar Lev di sepanjang Terusan Suez

Cuplikan Dari Medan Pertempuran Cyprus

,
Artikel ini diambil dari majalah Panji Masyarakat No.187,Tahun XVII
15 November 1975 / 11 Zulkaedah 1395 H

Dalam suatu jamuan cocktail yang khusus diadakan oleh Kedutaan Besar Turki antara Pemimpin Cyprus,Rauf Denktash dan Pemimpin-Pemimpin Islam Terkemuka pada hari Senin malam 27 Oktober 1975,pemimpin Cyprus itu telah menjelaskan panjang lebar tentang hakikat perjuangan Turki Cyprus. Diantara penjelasan-penjelasannya yang bersifat politik, telah disampaikannya pula kisah yang menakjubkan tentang pasukan Turki yang datang menyelamatkan penduduk Turki Cyrpus dari pembunuhan dan teror Eoka ( Ethniki Organosis Kyprion Agoniston) Yunani itu. Inilah antara lain kisah-kisah itu :

1. Sungguh-sungguh diluar dugaan bahwa pasukan payung Turki telah dielu-elukan dengan suara takbir oleh penduduk Turki Cyprus. Begitu pasukan payung Turki mendarat dengan selamat,maka berkumandanglah dari setiap menara mesjid suara Allahu Akbar,Allahu Akbar,Allahu Akbar. Dan segera pula kelihatan pasukan itu saling berpelukan dengan rakyat Turki Cyprus yang menanti kedatangan mereka. Seruan takbir itu adalah bukti dari semangat perjuangan Turki Cyprus yang sesungguhnya.




2. Dalam suatu dialog antara salah seorang anggota pasukan payung Turki dengan pimpinan Turki Cyprus,telah terungkap suatu misteri yang selama ini sering kita baca dalam Al Qur'anul Karim,namun belum kita alami. Berikut dialognya :

+ Apakah anda tidak takut ketika meloncat dari pesawat untuk mendarat di atas Cyprus?

- Selama ini saya tak begitu percaya dengan hal-hal gaib.Dan saya pun hanya sekali-sekali saja pergi ke mesjid.Saya bukanlah seorang muslim yang taat.Akan tetapi setelah saya keluar dari pesawat dan parasut sudah terkembang,saya tak takut sama sekali. Mengapa? Tak lain sebabnya adalah karena saya melihat di sekeliling saya berdatangan ribuan pasukan berkuda bersayap yang membangkitkan keberanian saya. Barangkali inlah pasukan malaikat yang dijanjikan oleh Tuhan.Pasukan malaikat itu benar-benar memberikan semangat tempur yang luar biasa dalam dada saya,sehingga lenyaplah segala perasaan takut dari diriku.

3. Setelah pasukan payung itu mendarat di tanah,maka komandannya antara lain berpesan sebagai berikut : " Prajurit-prajurit sekalian.Satu hal yang perlu ku peringatkan adalah bahwa kalian tak boleh minum air sumur,air ledeng. Kalian hanya boleh minum dari air yang ada pada kantong air masing-masing. Itupun hanya boleh diminum sedikit-sedikit dan bila telah saya izinkan".

Instruksi itu tentu saja dipatuhi oleh prajurit-parajurit itu. Akan tetapi mereka sangat haus. Kebetulan di situ banyak buah semangka. Karena dahaganya lalu buah semangka itu mereka potong-potong dan langsung memakannya. Tetapi tentang makan semangka bukanlah yang menjadi berita. Yang menjadi berita adalah ini : Mereka terus maju bertempur sambil makan semangka itu. Pendek kata, makan sambil bertempur, atau bertempur sambil makan-makan.

4. Adanya pasukan yang bertempur sambil makan semangka itu bukan saja menggelikan, tetapi juga mengerikan. Hal ini terungkap ketika seorang Komandan Yunani yang tertangkap diinterogasi. Beginilah bunyi interogasi itu :

+ Mengapa anda menyerah begitu saja tanpa bertempur, padahal persiapan perang anda begitu banyak? (persiapan pasukan Yunani di bawah komandan itu cukup untuk 6 bulan perang).

- Apa gunanya bertempur sendirian?

+ Mengapa anda sendirian?

- Habis, semua pasukan saya sudah lari pontang panting sebelum bertempur.

+ Mengapa mereka lari pontang panting sebelum bertempur?

- Mereka takut melihat ada pasukan yang maju menyerang sambil makan semangka. Lalu mereka mengira bahwa pasukan yang datang itu bukan pasukan "manusia biasa" dan tak mungkin dilawan, jadi mereka lebih baik kabur saja.

Ternyata ada hikmahnya pasukan Turki bertempur sambil makan-makan buah semangka itu, yang sekaligus mencerminkan bahwa pasukan Turki itu sama sekali tidak takut mati.

4. Dan bahwa pasukan Turki berdarah Tartar itu memang luar biasa beraninya, terungkap pula dalam dialog antara pemimpin Turki Cyprus dengan salah seorang prajurit Turki, sebagai berikut :

+ He prajurit mengapa kamu tidak mau berlindung ketika komandan kamu memerintahkan untuk berlindung?

- Saya datang ke Cyprus bukan untuk mencari perlindungan. Saya mendarat di pulau ini untuk mati...untuk mati syahid demi mempertahankan bangsa saya..sekali lagi, saya datang untuk mengejar syahid, bukan untuk berlindung.






Sekian.
Hey © 2008 Template by:
SkinCorner