Kamis, 13 Maret 2014
Mengenang Kembali Amir Hamzah
Sabtu, 22 September 2012
Keampuhan Bacaan Bismillahirrahmanirrahim
Panji Masyarakat
No.317
4 Jumadil Awal 1401-11 Maret 1981
Tahun XXII
Hal.66
Jumat, 21 September 2012
Tuan Monem Dalam Kisah K'tut Tantri
Panji Masyarakat
No.172
1 April 1975
Hal. 9-10
Kamis, 20 September 2012
Mengenai Rohana Kudus
Tamar Djaya, penulis buku Rohana Kudus, Riwayat Hidup dan Perjuangannya pernah dituduh seorang guru di Sumatra sebagai penulis "Vandalis". Menurut sang guru, Kartini hanya seorang. Dan kalau ada orang mengatakan ada lagi seorang wanita dari Sumatera, adalah semata-mata ingin menonjolkan orang kampungnya.
Ketika penulis buku tersebut menyuruh sang guru melihat bukti perjuangan Rohana di Koto Gadang dan hasil karyanya di Museum Jakarta, sang guru yang menuduh Tamar Djaya sebagai Vandalis terpaksa diam seribu bahasa. "Sebenarnya tidaklah mengherankan kalau dalam tingkat permulaan itu, orang-orang ragu menerima kebenaran ini, karena memang belum pernah terdengar, dan ahli sejarah kita pun tak pernah pula menyebut-nyebutnya", tulis Tamar Djaya.
Sampai kini, dua gelar penghargaan yang diterima Rohana Kudus meliputi penghargaan sebagai wartawati pertama dari Gubernur Sumatera Barat 15 Agustus 1974 dan gelar penghargaan Perintis Pers Indonesia dari Menteri Penerangan RI 9 Februari 1987.
Bila kini ada anak usia 7 tahun membacakan berita surat kabar dengan suara lantang di sebuah warung, agaknya orang minum atau makan akan menilai anak itu kurang akal, kalau tidak akan mengusir, disebabkan mengganggu ketenangan. Tapi pada tahun 1892, semasa belum banyak orang pandai tulis-baca, kehadiran Rohana Kecil didambakan masyarakat yang sedang nongkrong di warung.
Suatu kebiasaan Rohana sewaktu kecil, usia 8 tahun, membacakan surat kabar langganan ayahnya Moh.Rasyad Marajo Sutan di depan orang ramai di warung. Berita yang dibacakan itu sangat besar artinya. Sebab belum banyak orang yang tahu tulis-baca. Itu, hanya salah satu keistimewaan Rohana Kudus dari kecil, sudah terlihat cerdas dan pintar.
Dilahirkan 20 Desember 1884 di Koto Gadang, sebuah desa kecil di Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat. Tahun kelahiran Rohana bersamaan dengan Dewi Sartika. Meski Kartini lebih tua, namun dalam memulai kegiatan, Rohana Kudus lebih dahulu 8 tahun. Ayahnya seorang jurutulis. Dan Rohana merupakan saudara sepupu berlainan ibu dengan St. Syahrir, Perdana Menteri Pertama RI. Rohana ikut bersama ayahnya selama 11 tahun. Dalam usia 6 tahun ia telah mulai belajar menulis dan membaca dari orang tua angkatnya, seorang jaksa. Adiesa isteri teman ayahnya Jaksa di Alahan Panjang Solok, mengajari Rohana menulis dan membaca serta berhitung.
Mulai Mengajar
Orang tua Rohana kemudian pindah tugas ke Talu, Pasaman. Di sini Rohana mulai membangun sekolah, dan mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pelajaran berhitung, menulis dan membaca. Pekerjaan itu dilakukan 8 tahun sebelum Kartini berkiriman surat dengan temannya. Nenek Rohana bernama Sini Tarimin, orang termasyhur dalam bidang jahit menjahit, bahkan pernah mendapat medali kehormatan dari pemerintah. Pada nenek itu, Rohana belajar jahit-menjahit, merenda, menterawang dan menyulam.
Dan jangan lupa pelajaran agama yang dituntut sejak usia 6 tahun, juga diberikan kepada muridnya di Talu, Pasaman, tempat ayahnya bertugas.
Tahun 1897, ibunya meninggal dunia. Dan ia balik ke kampung Koto Gadang berpisah dengan ayahnya. Pekerjaan yang telah dimulainya di Talu Pasaman, ia lanjutkan di Koto Gadang. Semua anak-anak, terutama yang wanita berkumpul di rumahnya belajar berhitung, membaca, menulis dan menjahit, serta menyulam. Pada waktu itu berarti usianya baru mencapai 13 tahun, sebuah usia yang terlalu muda, sampai kini pun jiwa kepeloporan dan pergerakan kaum wanita bangsanya demikian menggebu. Setiap hari Kamis, kepada anak asuhannya diajarkan pelajaran agama. Dan setiap habis memberikan pelajaran, Rohana selalu membacakan surat kabar pada muridnya.
Nama Rohana sebagai pendidik kian hari kian harum. Pada tahun 1908, baru ia menikah dalam usia 24 dengan seorang pemuda bernama Abdul Kudus, anak seorang Laras, yang juga mempunyai jiwa pergerakan. Suaminya kebetulan keponakan dari ayahnya. Perkawinan seperti ini suatu kebiasaan di Minangkabau. Rohana dinilai terlambat melangsungkan pernikahan, karena pada masa itu, gadis desa menikah dalam usia belasan. Rohana memang sibuk dengan kegiatannya.
Menanggung Fitnah
Pekerjaan sebagai guru di Koto Gadang terpaksa putus selama 3 tahun, karena ia pindah tinggal di Maninjau bersama suaminya. Baru pada tahun 1911, Rohana kembali melanjutkan pekerjaannya di kampung. Ketika inilah hasratnya menggebu untuk membangun sebuah gedung sekolah yang permanen. Ini yang mengawali Yayasan Amai Setia. Rupanya tidak semua orang senang dengan kegiatan yang dilakukan Rohana Kudus. Bagi sebagian kecil orang, Rohana mengumpulkan anak gadis ketika itu dinilai sebagai mengundang aib. Berbagai isu dihembuskan orang yang tak senang padanya. Ia difitnah telah merusak budi pekerti. Meski tak pernah meminta bayaran di sekolah tersebut, tetapi hembusan fitnah orang itu tak dapat ditahankannya. Bersama suaminya, tiga tahun ia meninggalkan kampung. Tapi setiap malam ingatannya selalu pada murid yang ditinggalkan. Ia membayangkan muridnya seperti anak ayam kehilangan induk.
Banyak surat datang ke Bukittinggi meminta Rohana kembali ke kampung untuk melanjutkan kegiatan sekolahnya. Dalam hatinya masih tergores pedihnya fitnah yang dilemparkan tempo hari. Tetapi Rohana memang dasar pejuang, tak tahan ia mendengar ratapan orang kampungnya setelah ditinggalkan. Ia memutuskan kembali ke kampung dan aktif kembali mengajar di sekolahnya. Namun kepulangannya kini dibekali semangat untuk lebih memperbaiki sistem belajar dan mekanisme yang lebih baik.
Rohana School
Bila di pulau Jawa didirikan sekolah Kartini setelah Kartini meninggal, tetapi di Bukittinggi ada Rohana School yang didirikan Rohana Kudus, ketika pindah dari Koto Gadang. Itu dilakukan pada tahun1916. Ia memang tak lepas dari fitnahan. Ketika memimpin Amai Setia, ia difitnah telah menggelapkan uang perkumpulan. Setelah diadili di Bukittinggi, ternyata ia tak terbukti bersalah. Seluruh keuangan perkumpulan dapat dipertanggungjawabkan, dan administrasinya bersih dan rapi. Fitnahan tersebut hanya karena keirian orang-orang yang tak senang padanya.
Ketika di Bukittinggi, ia membuat surat kepada Dt. St. Maraja yang menjadi Pemimpin Redaksi surat kabar Utusan Melayu di Padang. Ia bercerita tentang keinginan dan keluhan jiwanya untuk memajukan wanita melalui tulisan. Pemimpin Redaksi Utusan Melayu menyambut dengan semangat. Bahkan Dt. St. Maraja datang menemui Rohana ke Bukittinggi. Mereka sepakat menerbitkan surat kabar wanita. Rohana ditunjuk sebagai Pemimpin Redaksi, tetapi ia tetap berada di Bukittinggi, karena muridnya tak mungkin ditinggalkan. Sebagai redaksi pelaksana, ditunjuk Ratna Djuita, adik Dt. St. Maraja Itulah surat kabar perempuan pertama di Indonesia,"Sunting Melayu" yang diterbitkan tahun 1912. Terbit 3 kali seminggu. Coba baca diantara karangannya :
"Apabila diperhatikan bagaimana gerakan bangsa waktu ini, dan diperbandingkan dengan gerakan Hindia dan difikirkan bagaimana gerakan Sumatera waktu ini, maka tahulah kita bahwa masih jauh jalan yang kita tempuh ke padang yang bernama kemajuan."
"Biarpun banyaknya perserikatan terutama buat laki-laki akan tetapi marilah kita bangsa perempuan berani minta terima kasih kepada ahli-ahli supaya kita dihelanya dari lembah kegelapan ke jalan yang terang. Banyak tempat telah bertambah juga murid-murid perempuan dan belajar dengan rajinnya. Kita harapkan mudah-mudahan sekalian bangsaku Melayu yang ingin akan kemajuan dan keselamatan negeri dan bangsa serta tanah airnya akan memperhatikan hal ini." (Sunting Melayu 23 Mei 1923 tahun ke-2).
Pada 27 Juni 1922 no. 4 tahun I di Sunting Melayu, Rohana menulis, di antaranya :
"Ayolah mari ke taman sunting
hamburkan benih yang penting-penting
anyam menganyam, gunting menggunting
halus dan kasar dahan dan ranting
Perempuan harus menggerakkan diri
patutlah pula mengeluarkan peri
penahan nan kesat nak hilang diri
penghentian gunjing sehari-hari.
Dari dua kutipan karangan Rohana di atas, terlihat betapa besar cita-citanya untuk memajukan wanita di Indonesia. Masih banyak lagi karanganmya yang enerjik dan bernilai patriotisme. "Sunting Melayu" mampu bertahan sampai tahun 1921. Suatu rentang waktu yang tidak pendek untuk usia sebuah surat kabar wanita.
Tahun 1920. Rohana pindah ke Medan. Tahun 1924 ia pulang dan kembali menjadi wartawati surat kabar Radio yang terbit di Padang. Ia mengeluh, menangis, dan bersedih hati menyaksikan nasib kaumnya yang masih diperbudak secara tidak resmi. Banyak wanita menjadi nyai dan istri piaraan penggede Belanda. Sehabis manis, sepah dibuang. Dan lebih-lebih jadi pekerja di perkebunan yang selalu jadi barang rongsokan. Wanita menjadi pemuas hawa nafsu kaum lelaki. Demikian juga di Jawa, mereka bekerja di pabrik dan selalu menjadi permainan lelaki. Mereka tidak bersekolah dan tidak punya ilmu pengetahuan, sehingga apa yang terjadi pada dirinya dianggap sebagai takdir Tuhan YME.
"Kapankah bangsaku akan maju?
Pabilakah kaumku akan bangun?" tulis Rohana.
Rohana Kudus meninggal pada 17 Agustus 1972 dalam usia 88 tahun di rumah anaknya, Jasma Juni, Jln. Sukabumi I Jakarta. Lalu Tamar Djaya pernah menulis : "Orang hanya menyebut Kartini dan sama sekali tidak menggubris Rohana. Rohana tak ada dalam catatan sejarah kita. Alangkah zalimnya dunia ini."
Selasa, 18 September 2012
Gadis 8 Tahun Berbicara Tentang Jihad
Dalam konferensi mengenai kebangkitan Muslim itu, Ruqaya mengatakan tentang kecintaan dirinya pada Jihad dan Perlawanan rakyat Suriah. Hal ini sepertinya membuat pihak berwenang di Australia kelimpungan. Mereka mengadakan penyelidikan tentang latar belakang Ruqaya, gadis kecil Muslim berusia 8 tahun yang pemberani ini.
"Anak-anak muda yang seumuran seperti saya di sana terlihat di jalan-jalan bergabung dengan perlawanan (terhadap rezim Assad), mempertaruhkan nyawa mereka untuk membawa makanan, air dan obat-obatan untuk anggota-anggota keluarga mereka yang terluka.......beberapa dari mereka bahkan tidak pernah kembali lagi."
Sungguh berbeda dengan gadis-gadis muslim di kota kita ya? Di sini pada sibuk bersolek, pakai celana pendek, tidak menutup aurat dengan benar dll.
Sabtu, 15 September 2012
Imam Al-Bukhari Dan Imam Muslim, Dua Tokoh Penutur Hadits Yang Piawai
Menimba Ilmu Dari Seribu Guru
Nama lengkap Imam Al-Bukhari adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badizbah Al-Ja'fi Al-Bukhari. Ia dilahirkan di kota Bukhara pada Jum'at 13 Syawal 194 H. Pada usia yang masih relatif muda Al-Bukhari telah mampu menghafal sejumlah karya beberapa imam besar, berkat semangatnya yang besar dalam menimba ilmu. Sejak masa kanak-kanak ia sudah mampu menghafal dengan baik dan lancar beberapa tulisan imam-imam yang terkemuka di zaman itu. Al-Bukhari paling senang mendengarkan hadits-hadits yang dibacakan oleh para ulama di negerinya, di majlis-majlis taklim yang selalu dihadirinya dengan setia.
Pada 210 H, bersama ibunda dan saudaranya, Imam Al-Bukhari merantau ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji. Seusai menunaikan ibadah haji itu, ia tinggal beberapa lama di Madinah. Selama berada di Kota Nabi itulah ia menyusun Kitab At-Tarikh al-Kabir. Ini ia lakukan di samping makam Rasulullah SAW.
Dengan maksud dan dalam rangka menambah ilmu pengetahuan di bidang ilmu hadits, Imam Al-Bukhari kemudian melanjutkan perjalanannya ke berbagai kota untuk menemui guru-guru hadits dan para imam. Antara lain, ia pergi ke Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Syam, Homs, Asqalan dan Mesir. Selama perjalanannya ini ia menghimpun dan mencatat lebih dari 1.000 orang guru yang ditemuinya.
Perjalanan Al-Bukhari yang berat dan lama itu tak akan terlaksana andaikan ia tidak memiliki kepribadian yang tabah, tidak sabar dan gampang menyerah atau putus asa, juga tidak memiliki intelegensi yang tinggi, daya nalar kuat, cerdas dan cepat tanggap. Bukan luar biasa bila berkat kecakapan, kerajinan dan ketekunannya dalam memperlajari hadits-hadits, akhirnya ia dikenal dan sekaligus mencapai kedudukan sebagai tokoh terkemuka dalam ilmu hadits. Di samping itu ia pun dikenal sebagai orang yang tidak mudah terbuai oleh pesona duniawi dan rajin ibadah.
Sebagai buah perjalanannya yang panjang dan melelahkan itu, Al-Bukhari berhasil menghafal di luar kepala 100.000 hadits shahih, dan 200.000 hadits tidak shahih. Tidak aneh jika ia kemudian dipandang sebagai tokoh yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai perbedaan hadits yang shahih dari yang dhaif, memahami benar-benar keadaan sanad dan matan serta semua seluk beluk yang berkaitan dengan hadits maupun ilmu-ilmu hadits.
Pada umumnya para ulama mengetahui dan mengakui kedudukan Al-Bukhari yang tinggi itu dan kemampuannya yang demikian besar. Hal ini dibuktikan ketika ia berkunjung ke Baghdad. Sebelum tiba di sana, warga kota itu telah ramai membicarakan dan memuji-muji kehebatannya. Nama Al-Bukhari memang telah tersohor ke seluruh belahan dunia Islam waktu itu.
Diuji Ulama Baghdad
Ketika Al-Bukhari tiba di Baghdad, para ahli hadits kota itu ingin menguji kepiawaiannya. Mereka pun menyiapkan 100 buah hadits, lalu mereka balikkan matan dan sanad-nya. Mereka kacaukan matan hadits -hadits tersebut dan menempatkan matan suatu hadits bukan pada sanad-nya. Mereka juga menempatkan sanad hadits yang terakhir pada hadits yang lain. Mereka ini terdiri dari 10 orang ahli hadits dan setiap orang menyiapkan 10 buah hadits yang dikacaukan untuk disampaikan kepada Al-Bukhari dalam majis yang bakal dihadiri oleh 10.000 orang.
Sesudah semua orang berkumpul, salah seorang di antara ulama Baghdad itu tampil berdiri dan menanyakan salah satu hadits dari kesepuluh hadits yang disiapkannya. Ketika Al-Bukhari mendapat pertanyaan tersebut, ia langsung menjawabnya dengan mengatakan, "Saya tidak tahu." Demikian seterusnya hingga hadits yang kesepuluh ditanyakan kepadanya. Semua pertanyaan yang diajukan kepadanya mendapat jawaban yang sama, "Saya tidak tahu." Kemudian ulama-ulama yang lain tampil bertanya. Tetapi jawaban yang diberikannya tetap sama seperti semula. Sehingga para ulama yang bertanya itu saling pandang satu sama lain dan merasa amat tercengang akan kejelian pandangan Al-Bukhari.
Setelah semua pertanyaan diajukan, Al-Bukhari kemudian neguraikan kepada para penanya tentang duduk perkara hadits-hadits mereka itu. Seorang demi seorang diberinya penjelasan dan akhirnya Al-Bukhari mengembalikan setiap matan pada sanad-nya. Menyaksikan kemampuan Al-Bukhari yang luar biasa tersebut, para penanya akhirnya mengakui Al-Bukhari memang betul-betul piawai.
Suatu saat Al-Bukhari dianjurkan oleh salah seorang gurunya agar menghimpun hadits atau sunnah Rasulullah SAW yang shahih dalam sebuah kitab. Anjuran sang guru itu mengena di hati Al-Bukhari. Ia kemudian berupaya mengumpulkan hadits-hadits shahih tersebut dalam sebuah kitab yang disebut Al-Jami' as-Shahih atau Shahih Al-Bukhari. Ternyata upaya ini menyita waktu cukup lama : 16 tahun.
Sewaktu menyusun Al-Jami' as-Shahih ini, Al-Bukhari mempunyai kebiasaan mandi membersihkan diri, kemudian melakukan sholat dua raka'at dan beristikharah kepada Allah SWT sebelum mulai menulis. Ia tidak menulis kecuali hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah SAW.
Dalam menyusun karya besar tersebut, Al-Bukhari memilah-milah bab demi bab yang disesuaikan dengan bab-bab dalam ilmu fikih. hal ini ia lakukan dengan seksama dan teliti. Hadits-hadits yang dihimpun oleh Al-Bukhari dalam karya tersebut-sebagaimana dikatakn oleh Ibnu Hajar dalam kata pengantar Fath al-Bari-ada sebanyak 7.397 buah hadits. Ini selain hadits-hadits yang mu'allaq, yang mutabi' , yang mauquf dan hadits-hadits yang matan-matannya maushul sebanyak 2.602 hadits.
Setelah Al-Bukhari rampung menyusun dan mengulas karyanya itu, ia lalu membacakannya kepada Ahmad bin Hambal, Ibnu Main, Ibnu Madini, dan imam-imam hadits yang lain. Mereka semua sepakat, hasil karya Al-Bukhari itu bisa dipertanggungjawabkan dan hadits-hadits yang dihimpun dalam karya besar tersebut merupakan hadits-hadits yang shahih.
Al-Bukhari wafat di desa Khartank, seklitar 16 km dari Samarkand pada 30 Ramadhan 256 H.
Murid Yang Tak Kurang Piawai
Di antara para murid Al-Bukhari, ada seorang murid yang kemudian juga menjadi imam di bidang hadits yang tak kurang piawai dibanding sang guru. Si murid tersebut dikenal dengan sebutan Imam Muslim. Nama lengkap Imam Muslim ialah Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi an-Naisaburi.
Imam Muslim lahir di Naisabur pada 204 H. Sejak kecil ia sudah gemar menimba ilmu pengetahuan. Kalau perlu malah sampai merantau ke negeri orang. Di antara tempat-tempat yang pernah dikunjunginya ialah Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir.
Imam Muslim menerima hadits-hadits dari beberapa orang guru, selain dari guru utamanya, Al-Bukhari. Seperti halnya sang guru, ia gemar sekali mempelajari ilmu hadits dan amat menyenangi, bahkan mencintai ilmu tersebut. Ia juga mengikuti jejak Al-Bukhari yang sangat ia hormati dalam upaya menyusun karyanya.
Seperti halnya para imam yang lain, Imam Muslim juga memiliki kemapuan yang luar biasa. Daya hafalnya sungguh hebat. Di samping itu ia juga punya kemampuan mengarang. Salah satu karyanya yang terkenal ialah Shahih Muslim. Karya Imam Muslim yang satu ini tak kalah tersohor dengan karya gurunya, Shahih Al-Bukhari. Karyanya ini mempunyai peran dan kedudukan yang amat penting dan utama dalam dunia ilmu hadits.
Mengenai kedua karya besar tersebut, ada yang berpendapat Shahih Al-Bukhari lebih unggul ketimbang Shahih Muslim. Ini karena Al-Bukhari mensyaratkan penutur hadits harus bertemu langsung dengan gurunya, sementara Muslim tidak memberikan syarat yang demikian itu. Lagi pula Al-Bukhari lebih teliti dan seksama, juga karyanya ini diselaraskan dengan ilmu fikih. Di samping itu, dalam Shahih Al-Bukhari tidak banyak hadits-hadits yang mendapat sorotan dari segi syadz dan illat-nya bila dibandingkan dengan hadits-hadits yang ada dalam Shahih Muslim.
Oleh karena itu tidak aneh bila sebagian besar ulama mengukuhkan Shahih Al-Bukhari lebih unggul dibanding Shahih Muslim dari segi ilmu hadits. Meski demikian di lain pihak Shahih Muslim juga mempunyai keistimewaan dibanding Shahih Al-Bukhari. Muslim tidak memenggal-menggal hadits dan sanadnya, tidak pulang mengulang-ulangnya. Ia hanya menghimpun semua hadits dalam satu bab, sehingga memudahkan para penelaah untuk mempelajarinya.
Imam Muslim wafat pada 261 H di tempat kelahirannya pada usia 57 tahun.
Oleh Muhammad Ali
September 1991
Hal.73-77
Sabtu, 30 Oktober 2010
Kata Terakhir Ibu Fatmawati Soekarno : “AKU BERDO’A UNTUK CITA-CITA INDONESIA MERDEKA”
Artikel dari majalah Panji Masyarakat No.297, 15 Juni 1980, Tahun XXI , 2 Sya'ban 1400
Halaman 41
Beruntun berturut-turut para janda tiga pemimpin revolusi kita mengunjungi Tanah Suci melaksanakan ibadah Haji Umrah. Mulanya berangkat Ny.Rahmi Hatta, lalu disusul oleh Ny.Fatmawati Soekarno, kemudian tiba di Jeddah tanggal 10 Mei 1980 rombongan Ny.Siti Wahyunah Poppy Sjahrir. Pada tanggal 11 Mei 1980 bertepatan dengan hari ulang tahun ke-60 Ny.Sjahrir, dutabesar Hadi Thayeb mengadakan jamuan makan di kediamannya dan di situ hadir Ny.Fatmawati Soekarno. Tiga hari kemudian, pada perjalanan kembali ke tanah air, Ny.Fatmawati meninggal dunia di Kuala Lumpur. Wartawan Indonesia terakhir yang mewancarainya di Jeddah ialah H.Rosihan Anwar yang kebetulan sedang melaksanakan ibadah Haji Umrah.
Ny.Fatmawati berkata waktu itu : "Datang ke Mekah sudah menjadi pendaman cita-citaku. Saban hari aku melakukan zikir dan mengucapkan syahadat serta memohon supaya diberi kekuatan mendekat kepada Allah. Juga memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdo'a untuk cita-cita seperti semula yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia Merdeka:.
Sejurus ia berhenti. Ia melanjutkan : "Aku mendo'a di Masjidil Haram......". Ia berhenti lagi. "Bagaimana perasaan Ibu Fat ketika itu?"tanya H.Rosihan Anwar.
"Seperti di alam sorga. Ternganga aku"', sahut Ny.Fatmawati. Ia tambahkan : "Bahagia sekali aku dapat mencium Hajar Aswad pada malam Jum'at".
Dalam pada itu Ny.Rahmi Hatta sekembalinya dari Mekkah ketika diwawancarai oleh H.Rosihan Anwar mengatakan : "Ber-umrah lain daripada diwaktu Haji. Memang dimaksud melaksanakan ibadah Haji Umrah itu tadinya ialah bersama-sama dengan Bung Hatta. Tapi sejak tahun yang lalu Bung Hatta sakit-sakitan. Setelah Bung Hatta tidak ada, kami pergi juga. Di Ka'bah saya menangis, karena saya sendiri. Senyum Bung Hatta selalu terbayang-bayang, dan kami selalu mendo'akan Bung Hatta. Berumrah itu memang nikmat. Ka'bah itu memang mempunyai daya tarik sendiri buat orang Islam, membuat kita terharu bila melihatnya. Dengan tiada sengaja keluar air mata".
Sedangkan Ny.Siti Wahyunah Poppy Sjahrir mengatakan dia bersyukur dan berbahagia karena telah dapat melaksanakan ibadah Haji Umrah. Pada akhir tahun yang lalu dia memperoleh suatu petunjuk ghaib : "Kau harus pergi ke Mekkah". Alhamdulillah hal itu sudah dilaksanakannya. (HRA)
HRA : H.Rosihan Anwar
Kamis, 22 Juli 2010
FRONT SINAI-OPERASI BADR 1973
Segera setelah selesai perang 6 hari thun 1967,dan seluruh Sinai diduduki oleh Israel,termasuk sebelah Timur Terusan Suez, maka Kepala Staf Angkatan Darat Israel yang bernama Letnan Jendral Haim Bar Lev mengemukakan gagasan untuk membuat benteng di sepanjang Terusan Suez sebelah Timur yang dikuasai Israel. Gagasan tersebut diterima oleh pemerintah Israel dan pembuatan benteng dilaksanakan. Benteng tersebut seluruhnya terbuat dari pasir dengan tinggi lebih kurang 20 meter, lebar 26 meter dan panjang lebih kurang 135 km sepanjang Terusan Suez dari Laut Merah sampai Laut Mediteran. Antara beberapa kilometer dibuatlah kamar-kamar tempat tentara Israel. Tempat itu dilengkapi dengan senjata-senjata berat termasuk meriam-meriam kaliber besar. Dari tempat-tempat seperti itulah di sepanjang Terusan Suez,tentara Israel mengawasi gerak gerik tentara Mesir di sebelah Barat Terusan Suez dengan perlengkapan-perlengkapan modern. Benteng pasir sepanjang terusan Suez itu dibuat demikian rupa sehingga betul-betul tangguh dan kuat. Karena gagasan membuat benteng pasir itu datangnya dari Letnan Jendral Bar Lev, maka benteng tersebut diberi nama sesuai dengan namanya, yaitu benteng Bar Lev. Biaya pembuatannya lebih kurang $300 juta US dollar.
Disamping itu, secara rahasia Israel telah memasang pula pipa-pipa minyak di dalam Terusan Suez dan sepanjang Terusan Suez. Dalam keadaan pipa-pipa tersebut secara otomatis segera terbuka dan minyaknya yang menggenangi Terusan Suez segera terbakar, sehingga Terusan Suez akan menjadi lautan api. Dalam keadaan yang demikian menurut perhitungan Israel, tentara Mesir tidak mungkin melewati Terusan Suez, apalagi merebut Bar Lev. Oleh karena kuatnya benteng tersebut, maka dengan angkuhnya, Israel selalu mengatakan bahwa Mesir tidak mungkin dapat merebut Bar Lev. Begitu tingginya benteng tersebut, bila seseorang berada di atasnya akan terlihatlah dengan jelas segala sesuatu yang berada di sebelah Barat Terusan Suez. Sebaliknya bila seseorang berada di sebelah Barat Terusan Suez, maka ia tidak dapat melihat apa-apa yang sedang berlaku di sebelah Timur terusan Suez.
Bagaimana Mesir Merebut Bar Lev
Mesir, sebagaimana juga negara-negara Arab lainnya bertekad membebaskan seluruh wilayah Arab yang diduduki Israel serta membebaskan Palestina. Untuk dapat merebut kembali Sinai, maka Mesir harus lebih dulu merebut Bar Lev di sepanjang Terusan Suez
Cuplikan Dari Medan Pertempuran Cyprus
15 November 1975 / 11 Zulkaedah 1395 H
Dalam suatu jamuan cocktail yang khusus diadakan oleh Kedutaan Besar Turki antara Pemimpin Cyprus,Rauf Denktash dan Pemimpin-Pemimpin Islam Terkemuka pada hari Senin malam 27 Oktober 1975,pemimpin Cyprus itu telah menjelaskan panjang lebar tentang hakikat perjuangan Turki Cyprus. Diantara penjelasan-penjelasannya yang bersifat politik, telah disampaikannya pula kisah yang menakjubkan tentang pasukan Turki yang datang menyelamatkan penduduk Turki Cyrpus dari pembunuhan dan teror Eoka ( Ethniki Organosis Kyprion Agoniston) Yunani itu. Inilah antara lain kisah-kisah itu :
1. Sungguh-sungguh diluar dugaan bahwa pasukan payung Turki telah dielu-elukan dengan suara takbir oleh penduduk Turki Cyprus. Begitu pasukan payung Turki mendarat dengan selamat,maka berkumandanglah dari setiap menara mesjid suara Allahu Akbar,Allahu Akbar,Allahu Akbar. Dan segera pula kelihatan pasukan itu saling berpelukan dengan rakyat Turki Cyprus yang menanti kedatangan mereka. Seruan takbir itu adalah bukti dari semangat perjuangan Turki Cyprus yang sesungguhnya.
+ Apakah anda tidak takut ketika meloncat dari pesawat untuk mendarat di atas Cyprus?
- Selama ini saya tak begitu percaya dengan hal-hal gaib.Dan saya pun hanya sekali-sekali saja pergi ke mesjid.Saya bukanlah seorang muslim yang taat.Akan tetapi setelah saya keluar dari pesawat dan parasut sudah terkembang,saya tak takut sama sekali. Mengapa? Tak lain sebabnya adalah karena saya melihat di sekeliling saya berdatangan ribuan pasukan berkuda bersayap yang membangkitkan keberanian saya. Barangkali inlah pasukan malaikat yang dijanjikan oleh Tuhan.Pasukan malaikat itu benar-benar memberikan semangat tempur yang luar biasa dalam dada saya,sehingga lenyaplah segala perasaan takut dari diriku.
3. Setelah pasukan payung itu mendarat di tanah,maka komandannya antara lain berpesan sebagai berikut : " Prajurit-prajurit sekalian.Satu hal yang perlu ku peringatkan adalah bahwa kalian tak boleh minum air sumur,air ledeng. Kalian hanya boleh minum dari air yang ada pada kantong air masing-masing. Itupun hanya boleh diminum sedikit-sedikit dan bila telah saya izinkan".
Instruksi itu tentu saja dipatuhi oleh prajurit-parajurit itu. Akan tetapi mereka sangat haus. Kebetulan di situ banyak buah semangka. Karena dahaganya lalu buah semangka itu mereka potong-potong dan langsung memakannya. Tetapi tentang makan semangka bukanlah yang menjadi berita. Yang menjadi berita adalah ini : Mereka terus maju bertempur sambil makan semangka itu. Pendek kata, makan sambil bertempur, atau bertempur sambil makan-makan.
4. Adanya pasukan yang bertempur sambil makan semangka itu bukan saja menggelikan, tetapi juga mengerikan. Hal ini terungkap ketika seorang Komandan Yunani yang tertangkap diinterogasi. Beginilah bunyi interogasi itu :
+ Mengapa anda menyerah begitu saja tanpa bertempur, padahal persiapan perang anda begitu banyak? (persiapan pasukan Yunani di bawah komandan itu cukup untuk 6 bulan perang).
- Apa gunanya bertempur sendirian?
+ Mengapa anda sendirian?
- Habis, semua pasukan saya sudah lari pontang panting sebelum bertempur.
+ Mengapa mereka lari pontang panting sebelum bertempur?
- Mereka takut melihat ada pasukan yang maju menyerang sambil makan semangka. Lalu mereka mengira bahwa pasukan yang datang itu bukan pasukan "manusia biasa" dan tak mungkin dilawan, jadi mereka lebih baik kabur saja.
Ternyata ada hikmahnya pasukan Turki bertempur sambil makan-makan buah semangka itu, yang sekaligus mencerminkan bahwa pasukan Turki itu sama sekali tidak takut mati.
4. Dan bahwa pasukan Turki berdarah Tartar itu memang luar biasa beraninya, terungkap pula dalam dialog antara pemimpin Turki Cyprus dengan salah seorang prajurit Turki, sebagai berikut :
+ He prajurit mengapa kamu tidak mau berlindung ketika komandan kamu memerintahkan untuk berlindung?
- Saya datang ke Cyprus bukan untuk mencari perlindungan. Saya mendarat di pulau ini untuk mati...untuk mati syahid demi mempertahankan bangsa saya..sekali lagi, saya datang untuk mengejar syahid, bukan untuk berlindung.
Labels
- Arti Perintah Allah (2)
- Berita (15)
- Bintan (21)
- Dari Hati Ke Hati (3)
- Fakta (1)
- Gambar Hari Ini (5)
- Kisah (9)
- Mutiara Hikmah (44)
- My Lyric (2)
- My Story (60)
- Penting (3)
- Selamat Hari Raya (17)
- Video (41)
- download mp3 gratis (4)
- millatfacebook (87)
- monolog (6)
Entri Populer
-
Minggu sore, berjalan-jalan di sekitar kota kecil ini. Mengendarai sepeda motor bersama teman baikku. Kami berhenti di suatu tempat di kota...
-
Menanti waktu bekerja, menunggu tongkang datang di jeti (jetty) Tanjung Kuku, Bintan Timur. Di sebelah kanan jeti tersebut terhampar bebatu...
-
Melalui blog pribadinya, Omer Zaheer Meer's Blog , CEO sekaligus founder MyMfb.com (millatfacebbok) Mr. Omer Zaheer Meer pada hari Sela...



